Search

Sistem Panel Surya Skala Rumah Tangga

Energi surya (solar energy) adalah salah satu sumber energi terbarukan yang dapat menjadi energi alternative menggantikan energi fosil yang selain berkontribusi pada pencemaran lingkungan, juga berdampak pada kesehatan masyarakat. Energi surya diperoleh dari sinar maupun panas matahari yang sampai ke bumi (Bradford, 2006). Ketika ingin digunakan sebagai energi listrik, sinar matahari harus dikumpulkan dan diubah menjadi energi listrik terlebih dahulu.


Ada dua jenis teknologi yang dapat mengubah energi surya menjadi energi listrik yakni photovoltaic (PV) dan solar thermal. PV adalah teknologi yang mampu mengubah sinar matahari menjadi listrik ketika sinar matahari mengenai material semikonduktor (Timilsina, dkk. 2011). Teknologi dengan prinsip PV ini yang mendasari sistem panel surya yang telah banyak digunakan. Sementara solar thermal yang lebih dikenal dengan istilah concentrated solar power (CSP) menggunakan panas matahari yang digunakan untuk memproduksi uap sebagai pembangkit listrik . Dari kedua jenis teknologi tersebut, PV mendominasi 97% kapasitas produksi energi surya global sementara CSP kurang dari 3%. Hal ini disebabkan CSP akan lebih efektif digunakan dalam skala besar dan penggunaannya yang sangat bergantung pada sinar matahari langsung (Schmalense, dkk., 2015).


Secara teori, energi surya yang sampai ke bumi dapat menjadi sumber energi yang mampu melebihi kebutuhan energi global (Timilsina, dkk. 2011). Namun saat ini energi matahari baru sekitar 2-3% digunakan sebagai sumber energi listrik global (Ritchie dan Roser, 2020). Penerapan teknologi produksi listrik dari energi matahari menemui tantangan setidaknya pada tiga faktor yakni biaya instalasi yang lebih tinggi dibandingkan energi fosil, peningkatan kapasitas yang masih terkendala dengan ketersediaan bahan material, serta sinar matahari yang sulit diprediksi karena bergantung pada cuaca (Schmalense, dkk., 2015).


Di Indonesia, penggunaan energi surya juga masih sangat minim. Data dari Kementrian ESDM menunjukkan bahwa pada tahun 2019 penggunaan energi matahari di Indonesia hanya mencapai 0,05% dari total potensi yang ada yaitu sebesar 207,8 GWp (ESDM, 2019). Padahal energi surya memiliki banyak kelebihan dibandingkan energi fosil. Listrik yang berasal dari energi surya tidak menghasilkan emisi gas yang berbahaya bagi lingkungan. Energi surya sangat tepat digunakan di Indonesia yang berada di garis khatulistiwa dengan sinar matahari sepanjang tahun. Pemasangannya yang mudah dan sesuai kebutuhan serta memiliki ketahanan yang kuat bisa mencapai 30 tahun juga menjadi alasan kuat yang mendasari penggunaan energi surya sebagai sumber listrik masa depan.


Penyebab utama dari minimnya penggunaan panel surya adalah mahalnya harga panel surya dan biaya pemasangan. Untuk pemasangan panel surya dengan kapasitas 1 kWp dibutuhkan biaya sekitar Rp. 15.000.000,00. Meskipun demikian biaya pemasangan ini akan meringankan biaya bulanan listrik dari PLN dan akan “balik modal“ selama tujuh tahun kemudian. Dari penggunaan panel surya kapasitas 1 kWp ini dapat menghemat daya listrik rumah tangga sebesar 100 kWh per bulannya apabila panel surya digunakan selama minimal 3,5 jam per harinya (Arya Rezavidi, 2017). Berikut adalah contoh perbandingan perhitungan pengeluaran listrik antara energi batubara dan panel surya. Dalam konsumsi penggunaan 2200 Va per bulan maka besaran listrik dan biaya berkisar

(Sumber : pvinasia.com)

Maka total konsumsi Bulanan listrik rumah tanggga* dengan kWh meter 2200VA selama sebulan adalah kurang lebih 595,2 kWh. Atau dengan tarif listrik pada Februari 2020 sebesar Rp. 1.467,28/kWh akan setara dengan Rp. 873.325,05 setiap bulannya.Sedangkan dalam penggunaan system panel surya untuk 2200 Va bergantung dengan jenis sitem panel surya apa yang digunakan dimana terdapat 3 jenis panel antara lain :

1. Sistem Grid Tie dengan EXIM (tanpa baterai)

2. Sistem Grid Tie dengan EXIM dengan Baterai

3. Sistem Hybrid Pararel dengan PLN dan Genset

Ketiga jenis ini memiliki kekurangan dan kelebihannya masing – masing seperti yang di jelaskan pada table berikut:


(Sumber : pvinasia.com)

sehingga dengan menggunakan panel surya atap, dapat menyisihkan mulai dari Rp. 350.000,- perbulan dan pilihan tetap nyala listrik walaupun PLN bermasalah (padam).

Investasi awal untuk memasang sistem panel surya di rumah memang lumayan mahal, namun setelahnya tidak akan lagi mengeluarkan biaya operasional, hanya perlu melakukan perawatan saja terutama untuk aki sebagai penyimpan sebagai penyimpan energi listrik. Untuk membuat sistem panel surya, setidaknya ada empat komponen yang harus dipersiapkan yaitu : panel surya, solar charge controller, aki , dan inverter DC ke AC. Komponen tersebut sekarang bisa dibeli dengan berbagai variasi harga di toko online namun alangkah baiknya lihatlah review terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk memilihnya, jika sudah menemukan penyedia produk yang menjamin garansi produk. Lihat juga apakah punya pengalaman pemasangan sistem panel surya atap rumah yang terbukti berfungsi minimal dalam satu tahun


Panel Surya dapat dipasang dimanapun selama ada sinar matahari. Panel surya dalam skala rumah tangga dapat dipasang di atap rumah, pada tiang, atau pada lahan kosong. Untuk memasang panel surya hal pertama yang perlu dilakukan adalah memasang dudukan panel dari rangka besi, lalu setelah itu panel surya dapat dipasang di atas dudukan tersebut. Untuk pemasangan panel surya di atap rumah pastikan bahwa panel tidak bersentuhan langsung dengan atap agar tidak terjadi gesekan. Selanjutnya panel surya disambungkan ke inverter yang kemudian disambungkan ke sistem listrik di rumah tersebut. Apabila ada kelebihan daya maka diperlukan baterai yang terhubung ke inverter untuk menyimpan kelebihan daya tersebut (Dafi, et.al, 2018).


Direktur Pengkajian Industri Manufaktur, Telematika, dan Elektronika Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Andhika Prastawa dikutip dari Tekno Tempo memaparkan cara memasang panel surya yang benar (Mahbub, 2018) Pertama, pemasangan panel surya haruslah di tempat terbuka agar semua panel terpapar sinar, tidak boleh hanya terpapar bayang-bayang walaupun hanya sebagian panel. Kedua, Posisi dudukan panel, terutama yang diatas atap harus memiliki cukup ruang untuk sirkulasi udara, Andikha menyarankan orientasi arah panel harus ke arah garis khatulistiwa. Kalau di pulau Jawa ke arah utara. Lalu, kemiringan panel optimalnya harus sesuai posisi derajat lintang, atau praktisnya sekitar 15 derajat agar air hujan dan debu bisa runtuh dengan sendirinya.


Daftar Pustaka


Anonym a, 2020. Solar Power 101: A Simple Guide to Solar Energy for Beginners.

https://www.wholesalesolar.com/solar-information/solar-power-101 diakses 17 Oktober pukul 15:14 WIB.

Anonym a, 2020.

https://www.rumah.com/panduan-properti/mengenal-panel-surya-cara-kerja-manfaat perizinan-hingga-biaya-pemasangannya-29103 diakses 17 Oktober pukul 15:14 WIB.

Anonym c. 2017. https://pvinasia.com/biaya-sistem-panel-surya-atap-untuk-rumah-2200-va/

diakses pada 17 Oktober 2020 pukul 17.00.

Anonym d. 2016 https://economy.okezone.com/read/2016/05/29/470/1400555/keuntungan-dan kekurangan-memasang-panel-surya-di-rumah diakses pada 17 Oktober 2020 pukul 16.00.

Bradford, T. 2006. Solar Revolution. The Economic Transformation of Global Energy Industry.

Cambridge, MA: MIT Press.

Dafi, D., Broto, W.. 2016. Optimalisasi Pemanfaatan Energi Listrik Tenaga Surya Skala

Rumah Tangga. Jakarta: Prosiding SNF UNJ

Dewan Energi Nasional. 2019. Outlook Energi Indonesia 2019. Jakarta: Kementrian Energi dan

Sumber Daya Mineral

Mahbub, A. 2018. Begini Cara Pasang Panel Listrik Tenaga Surya yang Benar.

https://tekno.tempo.co/read/1125158/begini-cara-pasang-panel-listrik-tenaga-surya-yang-benar/full&view=ok diakses 17 Oktober 2020 pukul 15:13 WIB.

Ramadhan, A. I., Diniardi, E., & Mukti, S. H. (2016). Analisis desain sistem pembangkit listrik tenaga surya kapasitas 50 WP. Jurnal Teknik, 37(2), 59-63.

Ritchie, H. Roser, M. 2020. Renewable Energy https://ourworldindata.org/renewable-energy#:~:text=In%202019%2C%20around%2011%25%20of,mix%20later%20in%20this%20article. Diakses 17 Oktober 2020 pukul 21.00 WIB

Schmalensee, R., Bulovic, V., dkk . 2015. The Future of Solar Energy: an Interdisciplinary MIT Study.

Massachusetts Institute of Technology.

Timilsina, G. R., Kurdgelashvili, L., Narbel, P. A., 2011. A Review of Solar Energy: Markets,

Economics and Policy. The World Bank.


Penulis

  1. Agmad Fauzan

  2. Nurin Imana Hidayati

  3. Sarah Muktafikah

  4. Fitri Nur Laili


43 views

Recent Posts

See All

Beras VS Sagu VS Sorgum

“Ah, belum makan, kalau belum makan nasi.” Mungkin ini kata-kata yang sudah tidak asing ditelinga kebanyakan masyarakat Indonesia. Walaupun sebelumnya sudah memakanan makanan yang termasuk kategori ka

Jakarta, Indonesia

© 2020 by Kertabumi Recycling Center