Search

Kenapa Kita Harus Melakukan Diversifikasi Pangan?

Diverifikasi? Bukan! Di-ver-si-fi-ka-si.

Diversifikasi berarti “penganekaragaman”, lawan dari “penyeragaman”.

Diversifikasi pangan secara gampang dapat diartikan sebagai upaya penganekaragaman pangan (tidak hanya makanan pokok, ya). Tujuannya adalah mencapai ketahanan pangan, yaitu keadaan dimana setiap orang, di setiap saat, mempunyai akses terhadap makanan bernutrisi yang cukup [1].

Mengapa Diversifikasi Pangan itu Penting?

Ketahanan Pangan: Bahayanya Bergantung Satu Bahan

Sekitar 95% sumber kalori di dunia berasal dari 30 spesies, namun lebih dari setengahnya berasal dari 3 jenis tanaman: jagung, beras, dan gandum [1]. Jika terjadi gagal panen atau serangan hama, maka ketahanan pangan negara akan terganggu. Harga pangan akan melesat naik dan berpotensi mengakibatkan kelaparan [2]. Nah, dampak negatif ini dapat dicegah dengan cara mengganti konsumsi kalori dengan bahan non-pokok seperti kacang-kacangan, sayur, dll.


Gambar 1. Suplai kalori dari bahan pangan non-pokok di dunia [3]

Makin Beragam Makin Sehat

Pola makan sehat manusia membutuhkan sedikitnya 51 jenis nutrisi yang berbeda [4]. Semakin beragam makanan yang dikonsumsi, semakin banyak jenis nutrisi berbeda yang terpenuhi. Risiko malnutrisi, stunting, dan kekurangan berat badan juga menurun dengan pola konsumsi beragam [5]. Jadi, kalau mau sehat, makannya jangan itu-itu melulu!

Selamatkan Lingkungan dengan Sistem Pangan Ideal

Pola makan kita memberi dampak lingkungan yang cukup besar. Bila pola makan populasi dunia saat ini tidak berubah hingga 2050, akan terjadi kenaikan emisi gas rumah kaca sebesar 80% dari aktivitas produksi pangan dan pembukaan lahan [6–8].

Selain itu, pola konsumsi yang seragam mendorong agrikultur modern mengutamakan angka produksi. Sayangnya, hal ini justru membuat tanaman menjadi lebih lemah menghadapi penyakit dan menghasilkan nutrisi yang lebih sedikit. Di sisi lain, diversifikasi pangan akan membuat sistem pangan yang lebih ideal [9].



Gambar 2. Skema sistem pangan yang ideal mencakup tiga aspek: nutrisi, lingkungan, dan sosio-ekonomi.

Bagaimana Diversifikasi Pangan di Indonesia?

Pola Konsumsi Kita

Pola konsumsi pangan masyarakat Indonesia saat ini masih belum beragam. Ini tercermin dari capaian skor pola pangan harapan (PPH) pada tahun 2019 sebesar 90,8. PPH merupakan parameter yang menunjukkan kualitas konsumsi pangan masyarakat. Semakin tinggi skor PPH, konsumsi pangan semakin beragam dan bergizi seimbang dengan skor PPH ideal 100.

Makanan pokok penduduk Indonesia umumnya memanglah beras. Sebenarnya, banyak jenis sumber karbohidrat lainnya yang dapat dibudidayakan untuk konsumsi masyarakat, namun masih terbatas, seperti ubi kayu, ubi jalar, talas/keladi, kentang, garut, ganyong, sukun, pisang, sagu, sorgum/hotong, hanjeli, iles-iles, dll.

Beras Lagi, Beras Lagi...

Target peningkatan konsumsi pangan sumber karbohidrat non-beras difokuskan pada provinsi-provinsi yang telah memiliki angka konsumsi cukup tinggi. Langkah ini didasarkan pada pertimbangan sudah terbiasanya masyarakat mengkonsumsi bahan pangan tertentu, sehingga upaya peningkatan konsumsi akan relatif lebih mudah dilakukan [10].



Gambar 3. Potensi pangan non-beras di Indonesia [10].

Sayangya, ada beberapa inkonsistensi kebijakan pemerintah. Program diversifikasi konsumsi pangan ditetapkan sejak guna untuk menurunkan konsumsi beras. Namun, pemerintah juga menetapkan harga beras murah, sehingga banyak orang terdorong untuk mengkonsumsi beras. Pemerintah juga menetapkan program OPK (Operasi Pasar Khusus) beras yang berlaku untuk semua provinsi baik di kota maupun di desa tanpa memperhatikan faktor sosial dan budaya makan setempat. Generalisasi program tersebut justru mendorong beras sebagai pangan pokok, berlawanan dengan upaya diversifikasi pangan [11].

Contoh lain adalah adanya program MIFEE (Merauke Integrated Food and Energi Estate) atau yang dikelola secara terpadu di wilayah Merauke, Papua, dengan areal yang sangat luas. Pemerintah berencana menjadikan Merauke sebagai penghasil beras, jagung, dll. Padahal, di Papua potensi pangan lokal yang tinggi adalah sagu [11].

Diversifikasi pangan itu bermanfaat dan penting dilakukan. Pada akhirnya, program ini bergantung dari pilihan pola makan individu. Jadi, daripada menunggu lama-lama, ayo mulai ragamkan pola makan mulai dari diri sendiri!

Penulis: Bambang Wisanggeni dan Anggita R.K. Wardani


Referensi

[1] S. L. Dwivedi, E. T. Lammerts van Bueren, S. Ceccarelli, S. Grando, H. D. Upadhyaya, and R. Ortiz, “Diversifying Food Systems in the Pursuit of Sustainable Food Production and Healthy Diets,” Trends Plant Sci., vol. 22, no. 10, pp. 842–856, 2017, doi: 10.1016/j.tplants.2017.06.011.

[2] Imelda, N. Kusrini, and R. Hidayat, “Development Strategy of Local Food Diversification,” J. Econ. Policy, vol. 10, pp. 62–79, 2017.

[3] S. Choudhury and D. Headey, “What drives diversification of national food supplies? A cross-country analysis,” Glob. Food Sec., vol. 15, no. May, pp. 85–93, 2017, doi: 10.1016/j.gfs.2017.05.005.

[4] I. D. Graham and J. Tetroe, “CHIR research: how to translate health research knowledge into effective healthcare action,” Healthc. Q., vol. 10, pp. 20–22, 2007.

[5] R. Remans, S. A. Wood, N. Saha, T. L. Anderman, and R. S. DeFries, “Measuring nutritional diversity of national food supplies,” Glob. Food Sec., vol. 3, pp. 174–182.

[6] D. Tilman and M. Clark, “Global diets link environmental sustainability and human health,” Nature, vol. 515, pp. 518–522, 2014.

[7] B. Baiželi, “Importance of food-demand management for climate mitigation,” Nat. Clim. Chang., vol. 4, pp. 924–929, 2014.

[8] F. Hedenus, “The importance of reduced meat and dairy consumption for meeting stringent climate change targets,” Clim. Chang., vol. 124, pp. 79–91, 2014.

[9] P. Sukhdev, “Fix food metrics,” Nature, vol. 540, pp. 33–34, 2016.

[10] Badan Ketahanan Pangan, “Roadmap Diversifikasi Pangan Lokal Sumber Karbohidrat Non Beras (2020-2024),” 2020.

[11] M. Ariani, Arah, Kendala dan Pentingnya Diversifikasi Konsumsi Pangan di Indonesia. Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, 2019.

6 views

Recent Posts

See All

Beras VS Sagu VS Sorgum

“Ah, belum makan, kalau belum makan nasi.” Mungkin ini kata-kata yang sudah tidak asing ditelinga kebanyakan masyarakat Indonesia. Walaupun sebelumnya sudah memakanan makanan yang termasuk kategori ka

Jakarta, Indonesia

© 2020 by Kertabumi Recycling Center