Search

Harga Lingkungan Dari Listrik Yang Kita Pakai

Pernahkah kita berpikir bagaimana listrik yang sehari-hari kita pakai bisa sampai ke rumah, lalu kita menggunakannya dengan bebas, sebebas uang yang dapat kita keluarkan untuk membelinya? Film dokumenter berjudul “Sexy Killers” menjelaskan itu semua beserta berapa harga kerusakan lingkungan dan bencana kemanusiaan yang harus dibayar agar listrik itu bisa sampai ke rumah kita. Bermula dari hasil kekayaan bumi Indonesia bernama batu bara yang diambil dari tanah pulau Kalimantan, batu bara digunakan sebagai bahan bakar dalam pembangkit listrik tenaga uap, atau PLTU, yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Jika ditanya apakah PLTU memberi dampak negatif pada manusia dan lingkungan, kebanyakan orang Indonesia kini mungkin akan menjawab “iya”. Tak sedikit yang akan berkata bahwa PLTU menyebabkan polusi udara. Tapi apakah orang-orang sudah benar-benar tahu seberapa berbahayanya sebuah PLTU?

Diam-diam Mematikan tapi Terlanjur Ketergantungan

Pembangkitan energi dan listrik di Indonesia masih sangat tergantung pada PLTU. Ya, listrik yang kita gunakan sehari-hari, sebagian besar berasal dari PLTU. Dirjen Ketenagalistrikan (2018) melaporkan bahwa dari total kapasitas terpasang pembangkit nasional sebesar 64.924,80 MW, 84,93% masih didominasi oleh pembangkit berbasis bahan bakar fosil[1]. Lebih dari setengah kapasitas pembangkit “kotor” ini berasal dari PLTU.






Gambar 1. Kapasitas terpasang pembangkit nasional berdasarkan jenis pembangkit dalam persen (%)[1]


Dari keseluruhan kapasitas terpasang, sektor rumah tangga merupakan konsumen yang dominan. Listrik dari PLN dan pembangkit non PLN yang telah tersambung pada jaringan PLN (on grid) disalurkan kepada konsumen rumah tangga sebesar 97,8 ribu GWh (42%), industri 76,9 ribu GWh (33%) dan komersial sebesar 59,5 ribu GWh (25%), sedangkan konsumsi listrik di sektor transportasi untuk pengoperasian kereta komuter sebesar 274 GWh (0,12%)[2].





Gambar 2. Konsumsi listrik nasional berdasarkan sektor konsumen[2]

Buang-buang CO2 Gara-gara Batu Bara

Berbagai negara di dunia tengah gencar untuk mengurangi emisi CO2 dengan mengurangi konsumsi bahan bakar fosil. Artinya, PLTU dan pembangkit kotor lainnya diharapkan dapat tergantikan sesegera mungkin. EBT (Energi Baru Terbarukan) menjadi solusi alternatif pembangkit energi minim gas CO2, gas penyebab pemanasan global. Sayangnya, kontribusi EBT dalam negeri kini masih jauh dari target pemerintah pada tahun 2025, yaitu sebesar 23%. Akibatnya, negara kita turut berpartisipasi dalam mempercepat pemanasan global.

Berdasarkan data World Bank, Indonesia menghasilkan emisi sebesar 709 gCO2e/kWh (gram CO2 ekuivalen per kWh)[3]. Artinya, untuk setiap konsumsi 1 kWh listrik, kita menghasilkan emisi CO2 setara 709 gram. Jika pemakaian listrik bulananmu mencapai 200 kWh per bulan (sekitar Rp 280 ribuan untuk rumah 1300 VA), maka, kamu setara membuang 141,8 kg CO2 ke udara.

Itu baru satu rumah, lho! Dan angka sebesar itu karena kita masih ketergantungan PLTU dan kawan-kawan. Lalu, kenapa masih menggunakan batu bara jika dampak yang dihasilkan terlalu banyak yang negatif?

Batu Bara, Murah tetapi Tak Terbarukan

Penggunaan batu bara sebagai sumber energi untuk PLTU relatif jauh lebih murah dibandingkan alternatif energi lain. Selain itu, Batubara diperkirakan masih menjadi bahan bakar dominan untuk PLTU di Indonesia. Batu bara juga menghasilkan emisi gas buang seperti

partikel, SO2, NOx, serta CO2 yang sangat berbahaya, baik bagi lingkungan dan manusia. Ditambah lagi, batu bara merupakan sumber energi tak terbarukan. Butuh waktu berjuta-juta tahun untuk proses terbentuknya batu bara.

Sebagai contoh nyata dari film Sexy Killer, banyak sekali kerusakan lingkungan serta bencana manusia yang terjadi di suatu desa di Kalimantan akibat berdekatan dengan lokasi tambang batu bara seperti bekas lubang galian tambang, kelangkaan air bersih, meningkatnya angka kematian akibat bekas lubang tambang, hingga amblasnya tanah rumah mereka.

Memang dampak tersebut tidak kita rasakan langsung, karena tidak berada di dekat lokasi tambang. Akan tetapi, bencana ini sangat nyata bagi mereka yang berada dekat dengan lokasi tambang batu bara. Negara kita memang belum bisa langsung beralih dari batu bara menuju energi alternatif lain seperti energi matahari atau energi alternatif lain yang lebih ramah lingkungan lainnya. Namun, bisa dimulai dari sekarang untuk mulai berinvestasi dengan sumber energi alternatif yang ramah lingkungan untuk kesejahteraan di masa depan.

Masyarakat

Dalam pembangunan nasional seperti PLTU, tidak akan bisa memuaskan masyarakat dari segala penjuru. Tidak bisa dipungkiri akan ada sebagian masyarakat yang “dikorbankan”. Seharusnya hal ini bisa diantisipasi dengan meminimalisir dampak, apabila semua pihak bekerjasama. Sayang, hal tersebut sering diabaikan.

Dampak Emisi Gas PLTU terhadap Pertanian

Industri batu bara sudah sejak lama menjadi industri yang mengundang kontroversial. Ini disebabkan oleh emisi gas yang dihasilkan dari pembakaran batu bara untuk PLTU. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab resahnya masyarakat yang mempunyai lahan pertanian berdekatan dengan lokasi pertambangan bisa menjadi mimpi buruk. Ini dikarenakan, penambangan batu bara berkontribusi dalam menghasilkan gas metana, yang memberikan efek gas rumah kaca. Kontribusi emisi gas rumah kaca bisa sebesar 10,5%. Efek dari emisi gas rumah kaca ini membuat penurunan kesuburan tanah, penurunan kualitas udara, pencemaran air, mengubah pemanfaatan lahan, hingga mengubah topografi umum daerah penambangan secara permanen.

Menurunnya Kesehatan Masyarakat Sekitar

Tak hanya mendapatkan dampak buruk lingkungan, masyarakat yang tinggal di sekitar area tambang juga dihantui penurunan kesehatan. Di film “Sexy Killers”, diperlihatkan masyarakat yang mengidap penyakit terutama yang berhubungan dengan paru-paru, seperti sesak nafas, alergi debu, bahkan kanker paru-paru. Banyaknya masyarakat yang mengidap penyakit yang sama dikarenakan oleh proses ketika penambangan dilakukan dan ketika batu bara digunakan. Dalam proses tersebut menghasilkan abu ringan, abu berat, dan kerak sisa pembakaran yang mengandung berbagai logam berat yang tidak baik bagi kesehatan. Contoh dari logam berat tersebut adalah arsenik, timbal, merkuri, nikel, dll. Yang apabila terhirup terus menerus akan menyebabkan perununan kesehatan dalam jangka panjang.

Referensi

[1] Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan. Statistik Ketenagalistrikan Tahun 2018. 2018. Disadur dari https://gatrik.esdm.go.id/assets/uploads/download_index/files/2242b-statistik-ketenagalistrikan-2019.pdf

[2] Dewan Energi Nasional. Outlook Energi Indonesia 2019. 2019. Disadur dari https://den.go.id/index.php/publikasi/download/67

[3] The World Bank. Understanding CO2 Emissions from the Global Energy Sector. 2014. Disadur dari https://openknowledge.worldbank.org/handle/10986/17143


Penulis;

1. Faradina D.

2. Anggita R. K. Wardani

3. Bambang Wisanggeni

4. Khadijah Muna

43 views

Recent Posts

See All

Beras VS Sagu VS Sorgum

“Ah, belum makan, kalau belum makan nasi.” Mungkin ini kata-kata yang sudah tidak asing ditelinga kebanyakan masyarakat Indonesia. Walaupun sebelumnya sudah memakanan makanan yang termasuk kategori ka

Jakarta, Indonesia

© 2020 by Kertabumi Recycling Center