Search

Dampak Tanaman Padi Terhadap Keberlanjutan Lingkungan

Tak dipungkiri nasi menjadi makanan pokok sehari-hari mayoritas masyarakat Indonesia. Ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap makanan pokok nasi ini menjadikan pertanian sawah sebagai komoditas utama. Bahkan untuk meningkatkan produksi padi, pemerintah melakukan pembukaan lahan baru persawahan di daerah Papua melalui progam MIFEE. Namun apakah padi merupakan tanaman terbaik dari jenis tanaman lainnya sampai-sampai pemerintah melakukan perluasan lahan sawah di daerah Papua yang sebenarnya tanaman tersebut tidak cocok secara geografis dan budaya masyarakat setempat?


Secara global, komoditas sawah diperhitungkan sebagai penyumbang emisi gas pada atsmosfer bumi. Menurut Enviromental Defense Fund, sumbangan emisi gas komiditas sawah global menyamai dengan 1200 pembangkit listrik bertenaga batu bara berukuran rata-rata. Salah-satu gas yang dihasilkan merupakan gas metana (CH4), gas tersebut memiliki tingkat indeskpotensi pemanasan global 25 kali molekul karbon dioksida (CO2,. Gas tersebut dihasilkan oleh bakteri yang hidup di sawah yang tergenang air. (Carlile, 2019). Selain itu terdapat juga gas nitrogen oksida (N2O) yang dihasilkan dari reaksi oksigen di tanah dengan nitrogen. Nitrogen oksida (N2O) berbeda dengan metana yang dapat bereaksi dengan bahan kimia lain di udara dan rusak dalam beberapa tahun. Nitrogen oksida (N20) akan bertahan di atsmosfer sekitar 100 tahun dan mungkin lebih kuat 300 kali daripada CO2.


Untuk daerah persawahan dampak yang terasa adalah semakin kurangnya kualitas tanah sekitar persawahan. Hal tersebut disebabkan oleh penggunaan pupuk kimia, tak jarang untuk mencapai target produksi petani seringkali menggunakan pupuk kimia secara terus-menerus. Pupuk kimia yang berlebihan akan mematikan organisme yang hidup sebagai pembentuk unsur hara tanah, tidak hanya organisme yang didarat seringkali pupuk tersebut mengaliri perairan sehingga membuat organisme perairan turut keracunan. Hal ini dikarenakan pupuk mengandung zat seperti nitrat dan fosfat yang merupakan dua jenis zat kimia yang berbahaya karena racun yang dikandung. Emisi N2O tinggi telah dilaporkan di ladang dengan penggunaan pupuk nitrogen yang berlebihan (Yao, 2017).


Sawah juga membutuhkan asupan air yang tidak sedikit. Perkiraan saat ini menunjukkan bahwa rata-rata 3000-5000 liter air diperlukan untuk produksi satu kilogram beras, yang sekitar 2-3 kali lebih besar dari jejak air tanaman sereal lainnya, seperti gandum atau jagung. Namun, peningkatan urbanisasi dan industrialisasi semakin menguras cadangan air dan membatasi ketersediaan air irigasi di berbagai belahan dunia, yang secara khusus mengancam keberlanjutan sistem sawah irigasi.


Petani juga menghadapi berbagai masalah kesehatan. Penyakit kulit dan infeksi umum terjadi karena berdiri di air selama berhari-hari, seringkali penuh dengan lintah dan bahan kimia korosif. Amonia dari pupuk yang digunakan dapat menyebabkan glaukoma, kondisi mata yang menyebabkan kehilangan penglihatan jika tidak diobati. Asap dari bahan kimia lain dapat memengaruhi paru-paru (Carlile, 2019).


Untuk mengatasi permasalahan yang ditimbulkan dari penanaman padi, sustainable rice production (SRP) telah disusun sebagai upaya untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan dari penanaman padi (SRP, 2015). Penggunaan pupuk organik, penanaman dengan air yang minimal, system mina padi yang mengkombinasikan penanaman padi dan pemeliharaan ikan untuk mengurangi produksi gas metana adalah beberapa langkah yang diambil dari SRP. Pendampingan serta pengawasan dari pemerintah sangat dibutuhkan demi keberlangsungan system pertanian padi yang berkelanjutan. Selain itu, sebagai konsumen, masyarakat bisa membeli beras organik ataupun beras coklat yang melalui proses lebih singkat dibandingkan beras putih (Carlile, 2019). Dan yang lebih penting, mencoba mencari alternatif makanan selain nasi dapat menjadi solusi untuk mebngurangi ketergantungan pada nasi sebagai sumber karbohidrat.

Daftar Pustaka

Berutu, H. C. 2018. 5 Dampak Berbahaya, Stop ‘Kecanduan’ Pupuk Kimia! https://paktanidigital.com/artikel/bahaya-pupuk-kimia/#.X6ZRdGgzY2w diakses 7 November 2020 pukul 21:22 WIB.

Carlile, C. 2019. Rice. https://www.ethicalconsumer.org/food-drink/shopping-guide/rice diakses 7 November 2020 pukul 21:24 WIB.

Fleming, S. 2019. This is how rice is hurting the planet. https://www.weforum.org/agenda/2019/06/how-rice-is-hurting-the-planet/. diakses 7 November 2020 pukul 21:27 WIB.

Gabbatiss, J. 2018. Rice farming up to twice as bad for climate change as previously thought, study reveals. https://www.independent.co.uk/environment/rice-farming-climate-change-global-warming-india-nitrous-oxide-methane-a8531401.html diakses 7 November 2020 pukul 21:24 WIB.

Groenigen, K. J., Kessel, C., Hungate, B. A. 2012. Increased greenhouse-gas intensity of rice production under future atmospheric conditions. Nature Climate Change.

SRP (2015). The SRP Standard for Sustainable Rice Cultivation, Sustainable Rice Platform. Bangkok: 2015.

Wihardjaka, A. 2015. "Mitigasi Emisi Gas Metana melalui Pengelolaan Lahan Sawah." Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian, vol. 34, no. 3, Sep. 2015.

Yao, Z., Zheng, X., Liu, C., Lin, S., Zuo, Q., Bahl, K. B. 2017. Improving rice production sustainability by reducing water demand and greenhouse gas emissions with biodegradable films. Nature 05 Januari 2017.

Yunianto, T. K. 2019. Walhi Kritik Program Pemerintah Buka Sejuta Hektare Sawah di Papua. https://katadata.co.id/happyfajrian/berita/5e9a4e6bb53bb/walhi-kritik-program-pemerintah-buka-sejuta-hektare-sawah-di-papua diakses 7 November 2020 pukul 21:20 WIB.


12 views

Recent Posts

See All

Beras VS Sagu VS Sorgum

“Ah, belum makan, kalau belum makan nasi.” Mungkin ini kata-kata yang sudah tidak asing ditelinga kebanyakan masyarakat Indonesia. Walaupun sebelumnya sudah memakanan makanan yang termasuk kategori ka

Jakarta, Indonesia

© 2020 by Kertabumi Recycling Center