Search

Beras VS Sagu VS Sorgum

“Ah, belum makan, kalau belum makan nasi.”

Mungkin ini kata-kata yang sudah tidak asing ditelinga kebanyakan masyarakat Indonesia. Walaupun sebelumnya sudah memakanan makanan yang termasuk kategori karbohidrat seperti roti, kentang, mie, dan lain-lain. Beras merupakan pangan yang identik sebagai makanan orang Indonesia. Hal ini ditunjukkan dari tingginya angka konsumsi beras dari pangan yang lain, dimana pada tahun 2015 konsumsi pangan beras mencapai 33,3 juta ton dengan produksi 43,9 juta ton beras [1]. Melihat melonjaknya angka impor beras pada 5 tahun terakhir dari data BPS, dimana pada periode Januari - Oktober 2018, Indonesia mengimpor beras dari Thailand mencapai angka 780 ribu ton senilai USS 377,75[2].

Beralih dari Nasi

Tidak bisa dipungkiri lagi, dengan tingginya angka konsumsi, Indonesia masih belum bisa memenuhi kebutuhan pangan beras dalam negeri. Perlu adanya diversifikasi pangan yang mempunyai memperkuat keragaman konsumsi pangan dan menurunkan tingkat konsumsi beras di Indonesia. Salah satunya dengan mempromosikan dan mengingatkan kembali masyarakat Indonesia untuk memakan karbohidrat pengganti beras, seperti sagu, sorgum, kentang, jagung, umbi, dan sebagainya.

Beras vs Sagu vs Sorgum

Di Indonesia, kita sangat akrab dengan beras sebagai makanan pokok yang serbaguna dan dapat diolah dengan mudah. Namun, tahukah kalian kalau jenis beras di dunia ada banyak sekali macamnya? Setiap jenis memiliki karakter dan kandungan nutrisi yang berbeda satu sama lain. Jenis beras yang paling sering ditemukan di Indonesia ialah beras putih. Beras putih dianggap mengandung serta, protein, antioksidan, serta vitamin dan mineral tertentu.

Indonesia kaya akan tradisi suku budayanya yang beragam. Salah satunya ialah makanan pokok. Selain beras, sagu menjadi salah satu makanan pokok di Indonesia. Biasanya sagu diolah menjadi papeda oleh masyarakat yang tinggal di Indonesia Timur. Sagu sendiri merupakan tepung atau olahan yang diperoleh dari proses teras batang rumbia atau pohon sagu (Metroxylon sagu Rottb). Menurut Spesialis Gizi Klinis, dr Ida Gunawan, SpGK, jika dilihat dari kandungannya, nasi lebih unggul dibandingkan sagu karena masih memiliki kandungan protein. Sementara kandungan nutrisi di dalam sagu terbilang sedikit. Sebanyak 100 gram sagu hanya mengandung 1-2 gram protein dan serat 2-3 gram.

Sumber makanan pokok yang dikenal di Indonesia selama ini cukup beragam, mulai dari jagung, kentang, sampai ubi. Tak hanya itu, ada pula biji sorgum yang menjadi bahan pangan alternatif beras. Masyarakat Nusa Tenggara Barat sudah lama mengenal biji sorgum. Sorgum adalah biji-bijian sereal yang bentuk tanamannya tinggi seperti jagung. Konon, sorgum berasal dari Afrika. Sorgum juga bisa dimasak begitu saja layaknya beras. Sebagai bahan pangan, sorgum berada pada urutan ke-5 setelah gandum, jagung, padi, dan jelai. Disebutkan biji sorgum kaya akan nutrisi. Sorgum juga kaya kandungan niasin, thiamin, vitamin B6, juga zat besi, dan mangan. Bahkan, kandungan protein, vitamin, dan mineralnya lebih tinggi daripada beras.

Oleh: Faradina D

Khadijah Muna

[1] https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2018/01/12/inilah-perbandingan-produksi-dan-konsumsi-beras-nasional

[2]

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/02/04/setiap-tahun-indonesia-impor-beras-dari-thailand#:~:text=Berdarkan%20data%20Badan%20Pusat%20Statistik,dengan%20nilai%20US%24%20933%20juta.

[3]

Tasya Paramitha. 2019. Lebih Sehat Mana, Nasi atau Sagu?. https://bocahkampus.com/cara-menulis-daftar-pustaka. 7 November 2020 pukul 13.37.

11 views

Recent Posts

See All

Jakarta, Indonesia

© 2020 by Kertabumi Recycling Center